Songs and Promises sering muncul di rekomendasi…”

Kalimat yang Adelyn ucapkan pada dirinya sendiri itu menarik perhatian Diego dalam hitungan detik. Ia menoleh pada detik ketiga, ke arah Adelyn yang sedang memilih lagu untuk diputar pada ponselnya. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju kebun binatang untuk kencan mereka yang kesekian. Pada detik selanjutnya, pikiran dan ingatan mulai berenang-renang di dalam kepalanya. Entah karena pesan yang diterimanya pagi ini, atau ia memang selalu seperti itu; mengingat Songs and Promises seperti nadi. Namanya saja sudah cukup menjadi pemantik untuk semua perasaan yang tersimpan di dalam dirinya. Memang sudah tertimbun oleh waktu, namun perasaan itu masih ada—rindu karena sudah lama tidak bertemu, lalu sakit karena tahu bahwa ia tidak akan pernah kembali.

“Kamu suka ngepoin band yang lagi rame nggak?” Nadanya terkesan cuek, tidak mau tanpa sengaja menjatuhkan petunjuk. Ujung jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi. Ada sepercik kekhawatiran dalam benakny bahwa Adelyn bisa saja menemukan informasi tentangnya secara tidak sengaja. Untungnya, perempuan itu menggeleng.

“Kalau band jarang. Kadang aku denger K-pop, kadang lagu yang lagi populer aja. Oh, aku suka lagu-lagunya Nadin Amizah!” Adelyn menunjukkan layar ponselnya sekilas, menampilkan playlist yang dipenuhi lagu-lagu yang disukainya. Diego mengangguk tanda menyimak. “Kalau temen aku lagi play lagu Songs and Promises ya aku ikut denger sih, tapi nggak begitu nyimak. Katanya lagi naik daun sih. Kamu ngefans nggak, Go?

Diego selalu memasang senyum penuh arti setiap ada yang bertanya tentang Songs and Promises padanya. Sayangnya—atau mungkin untungnya—tidak ada yang memahami senyum itu selain dirinya sendiri.

“Aku juga tahu aja.”

Diego lebih dari tahu, namun ia belum ingin Adelyn tahu juga.

Spotify aku gak premium, lagunya ke-shuffle nggak apa-apa?”

Pada menit berikutnya, lantunan lagu sudah terdengar dari speaker. Karena Adelyn memilih daftar putar yang random, tidak menutup kemungkinan ada salah satu lagu Songs and Promises yang terdengar. Tebakan Diego benar. Belum sampai sepuluh menit berlalu, telinganya sudah menangkap suara yang familiar. **

We were twenty, full of dreams on our sleeves

Our steps were steady, we had sunbeams on our roads

So young, but we had each other

And the promises we made to each other

Somewhere in my head, we were still twenty

And lived the moment a little longer

Lagu itu dirilis sebagai peringatan hari jadi mereka yang kelima, dan hari jadi ketiga tanpanya. Di luar sana, mungkin masih ada yang berandai-andai tentangnya. What if Diego never left? Walaupun kebanyakan sudah mulai melupakannya. That’s life, after all. Things always come and go—replaced. Belakangan ini, Diego merasa itulah yang harus ia lakukan—mengganti dan digantikan.

Pergi berkencan di hari jadi Songs and Promises bukanlah sebuah kebetulan semata. Tidak bisa dibilang direncanakan dari jauh hari juga. Tepatnya, Diego hanya memutuskan ingin melakukan sesuatu pada hari yang pernah menjadi istimewa untuknya. Ia ingin memiliki ingatan lain pada tanggal 13 Desember selain kenangan lamanya merayakan hari bersama band, atau kegiatan yang dilakukannya selama empat tahun terakhir; merindukan band.

Diego sudah belajar sejak lama bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dihindari, seperti rasa sakit yang muncul setiap kali ia teringat kedua orang tuanya, atau hal-hal tentang Songs and Promises yang tersebar di sekitarnya. Ia hanya bisa mengubur semuanya, dan belakangan ini ia berpikir mungkin cara terbaik mengubur semuanya adalah menimbun semua kenangan itu dengan kenangan yang baru—seperti yang sedang dilakukannya sekarang. Menurutnya, apa yang dilakukannya hari ini mempertegas garis antara jalannya dan jalan Songs and Promises—memperjelas bahwa jalan mereka kini berbeda, dan masing-masing bahagia di jalannya.