Diego memiliki banyak hari menegangkan dalam hidupnya. Kebanyakan adalah hari ketika ia akan melakukan sesuatu yang besar—sesuatu yang akan berdampak seumur hidup. Ia ingat hari sidang skripsinya. Ia sempat merasa tidak percaya diri pada hasil penelitiannya dikarenakan kondisi mentalnya yang masih jauh dari kata pulih kala itu. Ketika teman-temannya duduk bersama di depan ruang sidang, Diego duduk di sudut tangga darurat bersama Teza. Itu juga merupakan kali terakhir sang manager menemaninya. Diego juga merasa gugup ketika akan mengungkapkan perasannya pada Adelyn. Sampai detik terakhir, masih ada sebagian kecil dari dirinya yang merasa ragu apakah ia siap untuk sebuah hubungan atau tidak. Yang terakhir adalah hari ketika Diego berdiri di depan pintu studio milik Songs and Promises.
Dulu Songs and Promises tidak punya studio musik sendiri. Mereka latihan dan rekaman dari satu studio ke studio lain yang mereka sewa per hari—kadang per jam. Setiap selesai latihan, mereka selalu duduk melingkar di atas lantai beralaskan karpet dan makan bersama. Di sela-sela obrolan, selalu terucap keinginan untuk memiliki sebuah studio musik sendiri yang bebas mereka gunakan kapan pun. Sekarang mimpi itu terwujud. Songs and Promises sudah memiliki studio musik mereka sendiri, walaupun Diego Adnan bukan lagi bagian dari mimpi itu.
Berdiri di depan studio itu sekarang memberinya perasaan yang campur aduk. Tentu, ada kerinduan pada sorot matanya. Di balik pintu itu adalah teman-teman yang pernah menjadi salah satu tempatnya pulang. Di balik pintu itu ada dunianya. Namun Diego tidak yakin, sekarang ia harus menyebutnya apa. Sebagian kecil dari dirinya merasa asing.
The place that had become a second home to them was a foreign place to him.
Tok tok
Diego mengetuk pelan pintu dengan kepalan tangannya. Sebelumnya, Teza sudah bilang bahwa ia tinggal perlu membuka pintu saja. Diego menarik napas dalam-dalam sebelum meraih gagang pintu dan mendorongnya pelan. Pintu hitam besar itu terbuka, begitu pula dengan lembaran kenangan yang ada di baliknya.
Kafka, Raka, Niko, dan Teza.
Semuanya mematung di tempat seperti baru saja melihat hantu. Nama Diego Adnan selalu mereka sebut seiring waktu, namun sosoknya tidak pernah menampakkan diri seperti sebuah mitos. Sama seperti Kafka, Raka, Niko, dan Teza yang terdengar seperti dongeng dalam dunia Diego. Berdiri berhadapan seperti sekarang terasa tidak nyata. Untuk sesaat, udara di dalam ruangan terasa penuh oleh keberadaan masa lalu yang menyerbu.
Niko adalah yang pertama membuka suara.
“Kenapa baru datang sekarang sih?!” serunya sambil berjalan ke arah Diego untuk memberinya pelukan singkat. Teza menyusul setelahnya.
“Tuyul yang satu ini akhirnya datang juga,” ucapnya sambil merangkul pundak laki-laki itu. “Aduh lo kurus gak sih? Lo rajin makan gak?”
Raka merangkul dari sisi yang lain. Bibirnya mengukir senyum yang sama seperti yang lain.
“Semuanya udah nungguin.”
Terakhir, Kafka menghampirinya dengan senyuman yang penuh makna.
“You made it.”
Diego berhasil melalui perjalanan panjang menuju studio Songs and Promises, menuju Kafka, Raka, Niko, dan Teza.
And it was such a relief that Diego made it alive, well, and happy. The memories—and the presence of Songs and Promises didn't bring him agony anymore. It brought solace instead.
“Maaf ya, jalannya panjang,” ucap Diego singkat sambil mengukir senyum simpul pada bibirnya.
Satu kalimat itu merangkum semuanya. Satu kalimat itu merangkum hampir lima tahun terakhir mereka. Antara Diego yang mengembara sendirian dan Songs and Promises yang menunggunya kembali. Selama itu, Diego terus berjalan sendirian—tersesat dan nyaris menyerah. Ia sempat berpikir bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat yang sama bersama mereka lagi. Ia pernah bertanya-tanya apakah masih ada tempat untuknya di antara mereka? Sama seperti mereka yang siap menerima seandainya Diego tidak menemukan jalannya kembali pada mereka. Namun, jawaban untuk pertanyaan Diego adalah: selalu ada tempat untuknya.