Tanya soal perasaan Diego
Aku mengulang-ulang kalimat itu di dalam kepala supaya nggak lupa. Hari ini aku harus menanyakan soal perasaan Diego, supaya aku pun bisa mulai menegaskan perasaan aku sendiri. Sambil mendorong kereta belanja di belakang Diego, aku mengumpulkan niat dan keberanian. Kamu bisa, Adel!
“Diego,” panggilku. Dia langsung menoleh. Padahal aku dan Diego cuma berbelanja di supermarket, tapi lagi-lagi penampilannya terlihat ‘wah’. Kaos hitam dan jaket denim hitam yang biasa saja itu terlihat mahal. Aku sampai lupa apa yang harus ditanyakan. “Kamu kalau tahun baru biasanya ngapain?”
Aku menghela napas dalam hati karena lagi-lagi gagal menanyakan hal terpenting ke Diego. Tapi diam-diam, aku merasa sedikit kesal juga karena ini semua ‘kan gara-gara Diego juga! Diego yang nggak menegaskan perasaan dia dan membuat aku penasaran sampai nggak bisa tidur. Aku mau tahu kenapa dia belum bilang soal perasaannya. Kemungkinannya karena dia belum yakin, atau dia nggak punya perasaan buatku—yang menurut Marena nggak mungkin, because you don't hold hands with someone you don't like, katanya. (Tapi Marena juga bilang kalau dia dan Petra juga bisa pegangan tangan.)
“Biasanya aku tahun baruan sendirian aja di rumah,” jawab Diego sambil melihat-lihat rak saus. Dia memastikan sebanyak tiga kali kalau botol saus di tangannya sesuai dengan apa yang ditulis dalam daftar belanjaan. “Nggak bisa dibilang tahun baruan juga sih. Aku nggak pernah ngerayain tahun baru lagi. Aku cuma nonton terus tidur.”
“Kamu nggak suka tahun baru? Kenapa?” tanyaku penasaran sambil ikut melihat-lihat rak, mencari saus cabai kesukaanku sambil melangkah pelan.
Dalam hati aku bergumam, bahkan keseharian Diego mirip ubur-ubur. Tapi sebagai orang yang suka dengan liburan dan perayaan, aku nggak relate sama sekali dengan dia. Padahal malam tahun baru itu seru karena banyak kembang api, ada film bagus di televisi (dan Diego bilang dia suka nonton film-film liburan di televisi), dan aku bisa makan jagung bakar—juga sosis dan daging—di teras bersama Ayah dan Ibu.
Ah, kayaknya aku tahu kenapa.
Diego terdiam lama sekali sambil memperhatikan label dari botol saus yang lain. Tapi aku sudah cukup kenal dia sekarang untuk bisa tahu kalau Diego bukan sedang memikirkan botol saus itu. Dia menoleh sekilas dan memasang senyum yang samar sekali. Senyum yang terlihat sedih.
“Ayah Ibu aku meninggalnya nggak lama sehabis tahun baru .”
Aku hampir menabrak kereta belanja setelah mendengar fakta baru itu. Aku kaget sampai jantungku terjun ke lambung. Setiap Diego bercerita soal kedua orang tuanya, aku harus mempersiapkan nurani sepuluh lapis, karena setiap cerita yang baru aku dengar selalu lebih sedih dari cerita yang sebelumnya. Mataku mengikuti gerak-gerik Diego yang pelan dan nggak bertenaga. Aku nggak bisa membayangkan gimana Diego yang selembek ubur-ubur ini bisa menghadapi semua itu tanpa berubah jadi bubur.
Kalau Diego itu Marena, pasti punggungnya aku peluk erat sekarang. Atau kalau aku jadi Ayah Ibu, pasti aku peluk Diego erat-erat setiap dia mampir ke rumah. Dan kalau Diego ubur-ubur sungguhan, pasti aku pelihara dengan baik di dalam akuarium.
“Terus sekarang kenapa mau rayain tahun baru lagi? Udah nggak sedih?” tanyaku lagi, sambil berharap kalau jawabannya adalah iya. Aku berharap kesedihan Diego itu adanya di masa lalu. Semoga sudah berlalu, begitu.
“Karena diundang Om Faisal sama Tante Inaya.”
Aku tidak yakin harus mengartikan kalimat itu seperti apa. Nada bicara Diego terlalu pelan dan lembut, jadi aku tidak bisa menebak emosinya lewat intonasi. Suaranya terlalu tenang untuk orang yang sedih, tapi terlalu sedih untuk orang yang tenang. Dari yang aku tahu, rasa duka itu nggak menghilang. Menurutku juga—dan menurut Ibu—rasa duka itu memang nggak bisa menghilang seperti rasa sakit di tangan yang teriris pisau. Rasa duka itu cuma bisa terlupakan, tertimbun oleh kenangan dan perasaan-perasaan yang baru. Aku rasa Diego juga sedang berusaha menimbun kenangan itu dengan kenangan yang baru.
Aku jadi sadar kalau Diego masih punya banyak hal yang perlu dia olah di dalam kepalanya selain soal perasaannya buatku.
“Mau beli cemilan nggak?”
Aku mengekor di belakang Diego yang mendorong kereta belanja ke lorong makanan ringan—lorong kesukaanku. Tapi kepalaku nggak bisa memikirkan cemilan yang aku mau, karena aku malah kepikiran dengan jawaban Diego tadi. Entah kenapa aku malah jadi bertanya-tanya, apa selama ini Diego melakukan banyak hal cuma karena diajak atau diminta Ayah dan Ibu? Di satu sisi, menurutku itu hal yang bagus. Artinya, mungkin, Ayah dan Ibu bisa menggerakkan Diego buat melakukan hal-hal yang menyenangkan lagi. Di sisi lain, bukannya ada kemungkinan kalau Diego ada di dekat aku cuma karena Ayah dan Ibu? Maksudnya, mungkin, Diego melakukan semua yang dia lakukan ke aku cuma buat menghormati niat Ayah dan Ibu. Kalau aku ingat-ingat lagi, jawaban Diego selalu seperti itu; karena diajak, karena diminta, karena ada waktu. Di awal, dia juga pernah bilang kalau dia pun nggak tahu semua ini arahnya ke mana. Dia cuma mengikuti arus. Tapi kalau nggak ada arus itu, apa Diego mau jalan di sebelah aku sambil pegangan tangan nggak ya?
Jawaban Diego yang terkesan sepele itu berubah jadi bola liar di kepalaku yang menggelinding kemana-mana, membuat pikiranku jadi kemana-mana juga. Padahal biasanya aku nggak menebak-nebak. Aku nggak mau menebak-nebak sesuatu yang aku nggak yakin kebenarannya. Tapi kalau menyangkut hati dan perasaanku sendiri, aku nggak selalu bisa menahan diri.