Kelihatannya, aku ada di posisi yang super gawat. Bukan karena deadline tugas semakin di depan atau karena tugasku banyak yang harus direvisi, tapi karena aku mulai kagum dengan Diego dan berpikir dia keren. Sebenarnya dari dulu juga aku kagum karena Diego memang sosok yang bisa dicontoh. Sebelumnya ‘kan aku melihat dia sebagai mentor, jadinya image dia di kepalaku selain ubur-ubur itu adalah senior yang bisa dicontoh dan menginspirasi. Tapi karena kita sekarang bukan sebatas murid dan mentor lagi, dan karena aku sekarang melihat dia sebagai Diego, aku juga mulai kagum dengan Diego sebagai Diego.
Marena pasti sadar juga soal ini karena dari tadi dia beberapa kali menyenggol aku dengat sikutnya. Untungnya, Diego sempat pergi ke kamar mandi, jadi aku dan Marena punya kesempatan untuk mengobrol berdua.
“Apa Rere???” tanyaku bingung—atau pura-pura bingung. Marena memasang senyum usil.
“Kamu terlalu keliatan kalau lagi ngeliatin Diego tadi,” katanya. Aku melotot.
“Masa sih? Terus Diego sadar nggak?” tanyaku dengan nada agak panik. Marena mengangkat bahu.
“Kayaknya sih?” Jawaban itu nadanya ragu-ragu. Aku jadi ikut ragu-ragu juga. Tapi Marena menambahkan informasi pendukung. “Soalnya sekilas, Diego kayak lagi tahan senyum. Cuma sebentar sih…”
Aku dan Marena saling menatap. Mungkin karena sudah berteman dari gigi kita masih dinamai gigi susu, kadang aku dan Marena bisa berkomunikasi tanpa suara. Cukup saling tatap mata aja, aku tahu apa yang mau dia bilang.
Jangan-jangan kalian udah saling suka
Aku melotot lagi, meminta Marena merevisi pikiran di kepalanya itu. Akhirnya dia cuma tertawa. Aku juga nggak membiarkan pikirannya itu masuk ke dalam pikiranku. Bukan karena aku nggak suka Diego—karena secara platonik aku sudah jelas suka dan nyaman—tapi menurutku belum waktunya membuat kesimpulan yang arahnya lain. Aku dan Marena nggak membahas soal Diego lagi karena orangnya sudah kembali dari toilet. Selagi aku dan Marena menyelesaikan tugas—bukan menyelesaikan sampai selesai, tapi sampai target word count hari ini terpenuhi—Diego sibuk dengan ponselnya. Sebelumnya dia bilang kalau temannya yang mau menikah itu resepsinya siang ini, jadi dia pasti sedang bertukar kabar. Setelah aku dan Marena mencapai batas kewarasan untuk mengerjakan tugas, kami semua keluar dari coffee shop. Tapi tujuannya bukan bulang, karena aku dan Marena nggak berencana pulang secepat itu.
“Diego, keliling dulu sebentar nggak apa-apa? Marena mau traktir kita es krim,” kataku.
“Iya, Kak,” tambah Marena—yang memanggil Diego dengan embel-embel ‘Kak’ karena katanya biar Adelyn saja yang punya hak memanggil Diego pakai namanya langsung—sambil mengangguk. “Sebagai ucapan terima kasih soalnya udah bantu aku juga.”
Diego yang sepanjang ingatanku belum pernah menolak permintaan atau ideku selama nggak di luar nalar itu mengangguk setuju. Dia juga nggak menolak traktiran es krim dari Marena, dan nggak keberatan mengekori dua mahasiswi ini melihat-lihat isi mall sebentar. Dia juga nggak keberatan diminta jadi tukang foto buatku dan Marena yang hari ini bajunya matching dan terlalu sayang kalau nggak difoto.
Padahal Marena itu orang asing buat Diego, tapi karena aku bilang dia sahabatku yang paling lama, Diego nggak merasa segan buat memperlakukan Marena dengan super baik juga. Sekilas, aku sempat nggak percaya kalau Diego itu anak tunggal, karena sewaktu Diego menyampaikan masukan dia buat tugasnya Marena, rasanya aku kayak lihat Marena dan kakaknya, Petra. Atau seenggaknya, Diego pasti punya orang-orang, teman misalnya, yang hampir kayak saudara.
“Makasih buat hari ini ya Adel, seru banget!!” Setelah berjalan-jalan sampai melebihi target langkah harian kita, Marena berpamitan lalu memeluk aku. Kita biasanya memang berpelukan mirip Teletubbies kalau pamitan. Setelah melepaskan aku, Marena pamit juga ke Diego. “Makasih banyak juga ya, Kak.”
Setelah itu, aku dan Diego memperhatikan Marena sampai dia benar-benar masuk ke dalam mobil jemputannya. Aku kira begitu, sampai aku menoleh ke arah Diego dan sadar kalau ternyata sedari tadi yang dia perhatikan itu aku.
“Kenapa liat-liat?” aku bertanya sambil mengeluarkan cermin kecil dari saku jaket, takutnya ada tepung mochi di muka. Diego sempat mentertawakan aku sebelum menggeleng.
“Aku kagum aja sama kamu,” katanya.
Kalau aku ada di film kartun, pasti ada tanda tanya besar di atas kepalaku sekarang. Aku bingung karena Diego tiba-tiba bilang kagum ke aku, padahal sedari tadi ‘kan aku yang merasa kagum.