"Kamu lebaran nanti sama siapa, Go?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Adelyn di antara dua porsi sate padang yang baru disajikan sang penjual. Pukul tujuh malam, setelah puas menyicip takjil, Adelyn dan Diego berhenti di tenda penjual sate padang dan memesan dua porsi. Bulan puasa sudah berlalu lebih dari setengahnya. Tidak terhitung lagi jumlah dan macam jajanan yang sudah Adelyn beli setiap sorenya. Tidak terhitung pula jumlah uang yang ia habiskan untuk membeli berbagai macam jajanan yang membuatnya kekenyangan itu. Yang bisa ia hitung adalah banyaknya waktu buka puasa yang ia habiskan bersama Diego. Dari tiga puluh hari dan dua puluh tiga hari yang sudah dilalui, mereka berbuka puasa bersama sebanyak setidaknya dua belas hari. Lebih banyak dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Diego bergumam sebentar sambil memikirkan jawaban, padahal sebenarnya tidak banyak jawaban yang dimilikinya. Setelah ditinggal kedua orang tuanya, Diego merayakan segala sesuatu sendirian, termasuk hari raya. Di tahun pertama, teman-temannya masih mengunjunginya meskipun ia tidak memiliki energi untuk menjamu mereka. Di tahun kedua dan selanjutnya, ia hanya akan duduk di meja makan sendirian sambil memakan ketupat buatan Bi Risma, juga beberapa lauk dan kue yang dikirim oleh keluarga Kafka. Selain kedua orang tuanya, sisa keluarga yang dimiliki oleh Diego hanyalah kerabat jauh yang tinggal di pulau yang berbeda, membuat silaturahmi selalu terkendala jarak dan waktu. Baru di tahun lalu, ia mulai merayakan hari raya bersama Adelyn dan keluarganya. Setelah makan ketupat opor buatan Bi Risma dan dendeng buatan Vionna—ibunya Kafka—Diego pergi ke rumah Adelyn. Di sana ia makan sepiring lagi ketupat, beberapa kue kering, dan semangkuk bakso sebelum pulang. Di perjalanan, ia mampir ke makam kedua orang tuanya untuk menaruh bunga krisan.
Tahun ini, ia mungkin akan melakukan hal yang sama.
"Sama diri sendiri, Cil," jawab Diego setengah bercanda sambil mengambil satu tusuk sate untuk dimakan.
"Ih," ketus Adelyn sambil ikut mengambil setusuk sate juga. Diego terkekeh sambil mengunyah. Setelah sama-sama menelan makanannya, mereka mengobrol lagi.
"Sama siapa lagi emangnya?" tanya Diego. Sudut bibir Adelyn sedikit menekuk ke bawah.
"Pasti sepi banget ya?" tanya Adelyn sedih. "Sebelum kenal Ayah dan Ibu, pasti sepi banget ya?"
Diego merapatkan bibirnya dan mengangguk pelan. Hari raya yang seharusnya menjadi hari seseorang berkumpul dengan keluarganya itu malah menyadarkan Diego kepada kekosongan di rumahnya. Ketika melangkah ke ruang tengah, ia tidak lagi menemukan ayah dan ibu untuk ia peluk. Set piring dan gelas cantik di dalam lemari tidak pernah dikeluarkan lagi. Suasana hari raya pun tidak bertahan lama. Saat matahari tepat berada di atas kepala, Diego akan pergi ke kamarnya lalu tidur. Ketika bangun, itu akan terasa seperti sebuah hari biasa di kalender.
Baru tahun lalu Diego merasakan kembali hangatnya hari raya yang penuh dengan kehadiran orang-orang. Di siang hari ia tidak tidur, melainkan berkunjung ke rumah Adelyn. Marena dan Petra juga melakukan hal yang sama—meskipun mereka tidak merayakan hari yang sama. Semuanya berkumpul di ruang tengah sambil memakan bakso yang dibeli dari abang-abang yang lewat di depan rumah. Marena dan Petra pulang lebih dulu di sore hari, sedangkan Diego baru pulang setelah makan malam. Ia duduk berempat di meja makan bersama Adelyn dan kedua orang tuanya; masing-masing memakan sepiring ketupat ditemani opor dan rendang.
Setelah beberapa tahun, akhirnya Diego merasakan kembali hari raya yang terasa sehangat dalam ingatannya.
"Kata Ibu, kamu nginep aja sekalian," ucap Adelyn. Mereka sedang membicarakan rencana hari raya tahun ini. Diego sudah dipastikan akan kembali merayakannya bersama keluarga Adelyn. Hanya rumah mereka lah yang bisa menjadi tujuannya.
"Aku datang pagi-pagi juga kan bisa," balas Diego. Idenya ditolak langsung oleh Adelyn.
"Enggak. Sekarang kan udah ada aku, Ayah, dan Ibu. Kamu nggak usah bangun di hari raya sendirian lagi."
Kalimat itu yang membawa Diego berada di sini sekarang; di meja makan rumah keluarga Adelyn. Di atas meja, ada empat piring yang sudah penuh diisi oleh ketupat dan teman-temannya. Adelyn duduk di sebelahnya, sedangkan Faisal dan Inaya duduk di seberang mereka. Semuanya duduk dengan mata yang berkaca-kaca setelah saling berpelukan lima menit sebelumnya. Seperti Adelyn, Diego juga dipeluk tubuhnya, diusap kepalanya, dan diucapkan doa-doa baik ke kehidupannya.
Semoga hari ini terasa hangat buat Diego ya
Seperti itu bunyi salah satu doa yang diucapkan ke telinganya oleh Inaya—yang kini ia panggil Ibu juga. Sejak awal tahun, ia mulai memanggil Faisal dan Inaya dengan sebutan ayah dan ibu juga. Karena itu di tahun ini, Diego kembali memiliki orang yang bisa ia panggil ayah dan ibu di hari raya. Ia juga bisa merasakan lagi rasanya berada di dalam dekapan seorang ayah dan pelukan seorang ibu.
"Diego makan yang banyak ya, tambah lagi ayamnya," ucap Inaya sambil membukakan toples bawang goreng untuk mereka.